gambar barbie

"MARS & ASL"

Sabtu, 04 Februari 2012

MATERI IPS KELAS IV SD, SEMESTER I

BAB I
PENDAHULUAN

Antropologi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa. Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal di daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya. Menurut Koentjaraningrat Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.

Secara umum Antropologi terdiri atas: Antropologi Fisik, dan Antropologi Budaya. Antropologifisik membahas mengenai manusia berdasarkan Jasmaninya, sedangkan Antropologi Budaya membahas mengenai Kebudayaan pada umumnya dan berbagai kebudayaan, berbagai bangsa diseluruh dunia, bagaimana manusia bisa memiliki kebudayaan, dan mengembangkan kebudayaannya sepanjang jalan. Antropologi Budaya juga membahas mengenai unsur-unsur budaya.

Ada 7 unsur budaya Universal (unsur-unsur budaya yang dimiliki berbagai masyarakat di seluruh dunia) yaitu: Peralatan dan Perlengkapan; Mata pencaharian hidup; Sistem Kemasyarakatan; Bahasa; Kesenian; Sistem Pengetahuan; Religi.



A. LATAR BELAKANG.
Sistem pengetahuan yang diperoleh manusia melalui proses belajar, yang mereka gunakan untuk menginterpretasi dunia sekeliling mereka, dan sekaligus untuk menyusun strategi perilaku dalam menghadapi dunia sekeliling mereka. Definisi ini mengandung sejumlah hal pokok. Pertama, budaya adalah sistem pengetahuan. Kedua, sistem pengetahuan yang disebut budaya itu merupakan hasil proses belajar (bdk. Carol dalam Ihroni, 1996: 18). Ketiga, budaya terkait dengan interpretasi dan perilaku masyarakat terhadap dunia sekelilingnya.
Indonesia merupakan negara yang majemuk, terdiri dari berbagai macam masyarakat yang memiliki budaya khasnya masing-masing. Oleh karena itu meneliti salah satu unsur budaya yaitu kesenian yang terdapat di Indonesia sangat menarik dan menyenangkan. Tim penulis memilih kesenian yang berasal dari budaya Suku Nias. Hal ini disebabkan oleh kesenian Suku Nias yang sangat banyak, namun masih banyak masyarakat Indonesia lainnya yang belum mengenal kesenian-kesenian itu. Kesenian-kesenian tersebut diantaranya: lompat batu, tari moyo, tari perang, alat musik khas nias, dan lain-lain.

B. BATASAN MASALAH.
Makalah ini membahas Kesenian yang berasal dari Nias diantaranya tradisi lompat batu, adat pernikahan, kerajinan tangn, alat musik, dan pakaian adat. Makalah ini juga menjelaskan deskripsi sederhana mengenai Nias dan masyarakatnya.

C. TUJUAN MASALAH.
Ada pun tujuan makalah ini adalah:
Untuk memperluas pengetahuan mengenai kesenian dari Nias.
Untuk melestarikan kesenian Nias yang nyaris punah.
D. DESKRIPSI SINGKAT MASYARAKAT NIAS.
Nias (bahasa Nias Tanö Niha) adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah barat pulau Sumatera, Indonesia. Pulau ini dihuni oleh mayoritas suku Nias (Ono Niha) yang masih memiliki budaya megalitik. Daerah ini merupakan obyek wisata penting seperti selancar (surfing), rumah tradisional, penyelaman, akuarium bawah laut, Gua panjang, batu megalit, kuburan penjajah, kesenian tradisional, lompat batu.
Pulau dengan luas wilayah 5.625 km² ini berpenduduk 700.000 jiwa dan terdiri dari 113 buah pulau-pulau. Pulau Nias Terletak 80 mil disebelah barat Pulau Sumatera di Propinsi Sumatera Utara.
Agama mayoritas daerah ini adalah Kristen Katolik dan Kristen Protestan. Pulau Nias saat ini telah dimekarkan menjadi 5 kabupaten dan kota yaitu:
Kabupaten Nias, dengan ibu kota Gunungsitoli.
Kabupaten Nias Selatan, dengan ibu kota Teluk Dalam.
Kabupaten Nias Barat, dengan ibu kota Onolimbu.
Kabupaten Nias Utara, dengan ibu kota Lotu.
Kota Gunungsitoli.

TSUNAMI & GEMPA BUMI 2004 DAN 2005.
Pada 26 Desember 2004, gempa bumi Samudra Hindia 2004 terjadi di wilayah pantai barat pulau ini sehingga memunculkan tsunami setinggi 10 meter di daerah Sirombu dan Mandrehe. Korban jiwa akibat insiden ini berjumlah 122 jiwa dan ratusan keluarga kehilangan rumah.
Pada 28 Maret 2005, pulau ini kembali diguncang gempa bumi, tadinya diyakini sebagai gempa susulan setelah insiden Desember 2004, namun kini peristiwa tersebut merupakan gempa bumi terkuat kedua di dunia sejak 1965. Sedikitnya 638 orang dilaporkan tewas, serta ratusan bangunan hancur. Hampir tidak ada bangunan perumahan rakyat di seluruh Pulau Nias yang tidak mengalami kerusakan akibat gempa itu.
Menurut Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Perwakilan Nias, bencana telah menyebabkan 13.000 rumah rusak total, 24.000 rumah rusak berat, dan sekitar 34.000 rumah rusak ringan. Sebanyak 12 pelabuhan dan dermaga hancur, 403 jembatan rusak dan 800 km jalan kabupaten dan 266 km jalan provinsi hancur. Sebanyak 723 sekolah dan 1.938 tempat ibadah rusak.

SUKU NIAS
 Kasta.
Suku Nias mengenal sistem kasta(12 tingkatan Kasta). Dimana tingkatan kasta yang tertinggi adalah “Balugu”. Untuk mencapai tingkatan ini seseorang harus mampu melakukan pesta besar dengan mengundang ribuan orang dan menyembelih ribuan ekor ternak babi selama berhari-hari
 Mitologi.
Menurut masyarakat Nias, salah satu mitos asal usul, suku Nias berasal dari sebuah pohon kehidupan yang disebut “Sigaru Tora`a” yang terletak di sebuah tempat yang bernama “Tetehöli Ana’a”. Mitos tersebut mengatakan kedatangan manusia pertama ke Pulau Nias dimulai pada zaman Raja Sirao yang memiliki 9 orang Putra yang disuruh keluar dari Tetehöli Ana’a karena memperebutkan Tahta Sirao. Ke 9 Putra itulah yang dianggap menjadi orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Nias.

 Arkeologi.
Penelitian Arkeologi telah dilakukan di Pulau Nias sejak tahun 1999 dan hasilnya ada yang dimuat di Tempointeraktif, Sabtu 25 November 2006 dan di Kompas, Rabu 4 Oktober 2006 Rubrik Humaniora menemukan bahwa sudah ada manusia di Pulau Nias sejak 12.000 tahun silam yang bermigrasi dari daratan Asia ke Pulau Nias pada masa paleolitik, bahkan ada indikasi sejak 30.000 tahun lampau kata Prof. Harry Truman Simanjuntak dari Puslitbang Arkeologi Nasional dan LIPI Jakarta. Pada masa itu hanya budaya Hoabinh, Vietnam yang sama dengan budaya yang ada di Pulau Nias, sehingga diduga kalau asal usul Suku Nias berasal dari daratan Asia di sebuah daerah yang kini menjadi negara yang disebut Vietnam.
 Marga suku nias.
Suku Nias terdiri dari beberapa marga diantaranya : Amazihönö, Baeha, Baene, Bate’e, Bawamenewi, Bawaniwao, Bawo, Bohalima, Bu’ulölö, Buaya, Bunawolo, Dachi, Dachi Halawa, Daeli, Dawolo, Dohare, Dohona, Duha, Fau, Farasi, Gaho, Garamba, Gea, Giawa, Gowasa, Gulö, Halawa, Harefa, Haria, Harita, Hia, Hondro, Hulu, Humendru, Hura, Lafau, Lahagu, Lahomi, La’ia, Laoli, Laowö, Larosa, Lase, Lawolo, Lo’i, Lombu, Maduwu, Manao, Mandrehe, Maruao, Maruhawa, Marulafau, Marundruri, Mendröfa, Nazara, Ndraha, Ndruru, Nehe, Saoiago, Sarumaha, Sihura, Tafonao, Telaumbanua, Wau, Wakho, Waoma, Waruwu, Zagoto, Zai, Zalukhu, Zamasi, Zandroto, Zebua, Zega,Zendratö.
 Makanan khas.
Bawi Ni’unagö, Daging babi yang dikeringkan dengan pengasapan.
Gowi Nihandro/Gowi Nitutu, Ubi tumbuk.
I’a nibiniögö, ikan yang dibungkus daun dan dibakar.

BAB II
PENDALAMAN MATERI

Kelas IV, Semester I
Standar Kompetensi:
1. Memahami sejarah, kenampakan alam dan keragaman suku bangsa di lingkungan kabupaten/kota dan provinsi.
Kompetensi Dasar:
1.5. Menghargai berbagai peninggalan sejarah di lingkungan setempat (kabupaten/kota, provinsi) dan menjaga kelestariannya.

Nias merupakan daerah yang kaya kebudayaan. Berikut adalah berbagai macam kesenian dari Nias.
2.1. Tari-tarian dan Upacara Adat.



2.1.1. Tradisi lompat BatuTradisi.
Lompat Batu atau Fahombo yaitu tradisi yang dilakukan oleh seorang pria yang mengenakan pakaian adat setempat Nias dan meloncati susunan batu yang disusun setinggi lebih dari 2 (dua) meter. Konon ajang tersebut diciptakan sebagai ajang menguji fisik dan mental para remaja pria di Nias menjelang usia dewasa. Setiap lelaki dewasa yang ikut perang wajib lulus ritual lompat batu. Batu yang harus dilompati berupa bangunan mirip tugu piramida dengan permukaan bagian atas datar. Tingginya tak kurang 2 (dua) meter dengan lebar 90 centimeter (cm) dan panjang 60 cm. Para pelompat tidak hanya sekedar harus melintasi tumpukan batu tersebut, tapi ia juga harus memiliki tekhnik seperti saat mendarat, karena jika dia mendarat dengan posisi yang salah dapat menyebabkan cedera otot atau patah tulang.
2.1.2 Adat Perkawinan Nias.
Pada masa dahulu, perkawinan di NIAS telah ditentukan dari sejak anak kecil (ditunangkan). Perkawinan di NIAS umumnya dilakukan dalam system mengambil isteri diluar clan/fam (marga-nya = System exogam). Di Nias berlaku adat eksogami mado dalam batas batas tertentu. Artinya; seseorang boleh kawin dengan orang semadonya (semarganya) asal kanikatan kekerabatan leluhurnya sudah mencapai 10 angkatan keatas (10 generasi). Proses perkawinan di NIAS berjalan menurut peradatan daerah wilayah hukum adat (fondrako) masing-masing negeri (Banua) yang dipimpin oleh seorang Salawa/Sanuhe Böwö adalah sebutan mahar dalam sistem adat perkawinan di Nias. Etimologi böwö adalah hadiah. Pemberian yang cuma-cuma. Dalam perkawinan adat Nias ada tiga pihak yang memiliki peran penting tetapi dalam posisi yang berbeda.
Ketiga pihak itu adalah:
Soroi tou´.
Sowatö atau sonuza´ (keluarga pihak penganten perempuan), dan
Uwu nono alawe´ pihak saudara laki-laki dari ibu (calon) penganten peremuan keluarga dari sibaya penganten perempuan.

2.1.3. Fame Fegero (Membagi Makanan).
Arti sesungguhnya adalah membagi makanan sebagai bukti kepedulian dan menyatakan kasih kepada tetangga atau saudara baik yang dekat maupun saudara yang jauh sekalipun. FameFegero misalnya ketika ada acara sebuah keluarga dan memotong ayam atau ternak lainnya dalam acara tersebut, maka tradisi membaginya ke tetangga (saudara) sebagai bukti pengikat persaudaraan yang dalam. Sekalipun hanya sedikit sekali bagian yang bisa di bagi, namun tetap harus ada. Suatu waktu kelak keluarga yang lain juga membalasnya sedemikian rupa.



2.1.4. Lae-lae Balo Mbanua.
Artinya ketika ada pesta di desa itu maka tentu ada jamuan makan dan memotong ternak untuk merayakannya. Tradisi Nias, semua keluarga wajib membaginya sesuai porsi kedudukan adat secara adil dan tidak boleh ada keluarga yang terlewatkan.
Lae-lae Balo Mbanua itu adalah tradisi yang menghargai semua sesama warga sebagai anggota dalam komunitas di desa itu. Jika, Lae-lae balo Mbanua untuk keluarga kami tidak ada, tentu saya akan pertanyakan, jika tidak bisa dipertanggung jawabkan maka akan menjadi sumber perpecahan (Aboto Mbanua haboro Lae-lae Balo Mbanua). Dalam membagi makanan juga harus berurut dan tidak boleh salah panggil nama.

2.1.5. Huo-huo hada.
Tata krama berbicara adat yang sopan santun dan penuh dengan wibawa. Orang Nias sudahmeniru gaya pidato dalam menyampaikan sambutannya dalam setiap pesta apapin di Nias. Seharusnya tata caranya dirubah dan tetap mempertahankan gaya huo huo hada nias, nifaema-ema li. Pantun Nias sangat indah dan mengandung ilmu pengetahuan sosial, budi pekerti yang tinggi, namun tradisi itu telah sedikit memudar.

2.1.6. Tari Maena.


Maena sebuah tarian yang sangat simpel dan sederhana, tetapi mengandung makna kebersamaan, kegembiraan, kemeriahan, yang tak kalah menariknya dengan tarian-tarian yang ada di Nusantara. Gerakannya yang sederhana telah membuat hampir semua orang bisa melakukannya. Kendala atau kesulitan satu-satunya adalah terletak pada rangkaian pantun- pantun maena (fanutunõ maena), supaya bisa sesuai dengan event dimana maena itu dilakukan. Pantun maena (fanutunõ maena) biasanya dibawakan oleh satu orang atau dua orang dan disebut sebagai sanutunõ maena, sedangkan syair maena (fanehe maena) disuarakan oleh orang banyak yang ikut dalam tarian maena dan disebut sebagai sanehemaena/ono maena. Syair maena bersifat tetap dan terus diulang-ulang/disuarakan oleh pesert amaena setelah selesai dilantunkannya pantun-pantun maena, sampai berakhirnya sebuah tarian maena. Pantun maena di bawakan oleh orang yang fasih bertutur bahasa nias (amaedola/duma-duma). Maena boleh dibilang sebuah tarian seremonial dan kolosal dari Suku Nias, karena tidak ada batasan jumlah yang boleh ikut dalam tarian ini. Semakin banyak peserta tari maena, semakin semangat pula tarian dan goyangan (fataelusa) maenanya. Maena biasanya dilakukan dalam acara perkawinan (fangowalu), pesta (falõwa/owasa/folauõr i).

2.1.7. Maluaya (tari perang).
Terdapat di seluruh daerah Nias. Dibagian utara namanya Baluse. Tarian tersebut ditarikan minimal 12 orang pria, dan bila lebih maka lebih baik. Pada umumnya lebih 100 orang, gerakannya sangat kuat.
Maluaya in Pulau-pulau Batu berbeda dengan Nias lainnya, di Pulau-pulau Batu para wanita juga turut menari. Tarian Maluaya di tarikan pada upacara pernikahan untuk masyarakat kelas atas, penguburan dan pesta untuk menyambut pendatang baru.






2.1.8. Forgaile
Adalah sebuah tarian khas Nias Selatan yang ditarikan oleh wanita untuk mengekspresikanrasa hormat dan untuk menyambut tamu khusus dan memberikan mereka sirih tradisional. Di bagian utara dinamakan Mogaele dan dapat ditarikan oleh wanita dan pria.
2.1.9. Foere.
Adalah sebuah tarian yang yang menampilkan lebih dari 12 orang penari wanita, diiringi dengan seorang penyanyi. Tarian ini merupakan bentuk dari penyembahan untuk berakhirnya kematian dan bencana.

2.1.10. Fanarimoyo.
Adalah sebuah tarian yang ditarikan Nias Selatan dan Utara oleh 20 penari wanita, kadang-kadang ditarikan oleh penari pria. Di bagian Utara tari ini dinamakan Moyo. Tarian ini dimulai dengan gerakan seperti elang terbang dan ditampilkan untuk acara hiburan. Tarian ini menggambarkan seorang gadis yang jarus menikahi pria yang tidak dicintainya. Dia berdoa supaya menjadi seekor elang yang dapat terbang.




2.1.11. Mandau Lumelume.
Adalah sebuah tarian dengan tujuan untuk memanggil roh. Tarian ini hanya ada di Pulau-pulau Batu.

2.1.12. Famadaya Hasijimate (Siulu).
Adalah sebuah upacara pemakaman bagi keturunan raja di Nias Selatan. Di dalam upacaraini, tarian Maluaya ditarikan dibawah pimpinan desa Shaman, peti mati diukir dari batang kayu pohon dan ukiran kepalanya dihiasi dengan sebuah batang kayu untuk memperlihatkan dasarnya setelah itu jenazah tersebut dikuburkan.

2.2. Alat musik Khas Nias.

2.2.1. Dolidoli.
Adalah sejenis gamelan yang terbuat dari kayu atau bambu.

2.2.2. Garamba.
Adalah gong besar da n sangat penting dalam musik tradisional nias.

2.2.3. Fondrahi.
Adalah sebuah drum kecil yang terbuka di satu sisinya, bentuk yang lebih besar di namakan Gondra.








2.3. Perhiasan khas Nias.
2.3.1 Zolo-zolo.
Kalung leher keluarga bangsawan yang terbuat dari batu-batu kaca yang telah disusun hingga membentuk lingkaran dengan diameter 25,5 cm.

2.3.2. Tola.
Gelang ini terbuat dari gading gajah sehingga disebut Tölazaga atau Tölagaza (tulang ataugading gajah). Sering juga dibuat dari kerang (kima), kayu, bambu dan lain-lain. Tetapi tetap disebut tölazaga meskipun terbuat dari bahan yang lain. Tinggi 6,7 cm, tebal 3,1 cm dengan diameter 8,0 cm.

2.4. Karya Seni, berikut adalah karya seni yang berasal dari Nias.
2.4.1. Rumah Adat.
Rumah tradisional di Nias Selatan berbentuk segi empat memanjang ke belakang. Posisinya berimpit dan berjajar rapi memanjang. Di setiap perkampungan, deretan rumah tradisional itu dipisahkan oleh jalan desa selebar 30 meter. Ini bisa dilihat di Desa Orahili Fau, Kecamatan Fanayama; Desa Bawömataluo, Kecamatan Fanayama (pada teks asli tertulis kecamatan Teluk Dalam, redaksi); Desa Hilinawalö Mazino, Kecamatan Mazinö; dan DesaBotohilitanö, Nias Selatan.
Sementara itu, rumah tradisional Nias Utara berbentuk oval, seperti yang terlihatdi Desa Sihareö Siwahili di Gunungsitoli. Rumah Nias Tengah lebih bervariasi,mulai dari yang segi empat, memanjang, sampai rustikal.
Rata-rata bagian ruang tamu rumah tradisional dibiarkan kosong sehingga terkesan luas. Diruang inilah berlangsung interaksi antar anggota keluarga ataupun sesama warga desa. Ketika menggelar upacara adat atau berkabung, warga berkumpul di sini.
Pada dasarnya, pendirian rumah tradisional Nias tanpa menggunakan paku, hanya pasak. Atapnya dari anyaman daun rumbia. Namun, dewasa ini ada warga yang menggantinya dengan atap seng. ´Khawatir mudah terbakar dan daun rumbia cepat rusak,´ kata warga DesaOrahili Fau, Kecamatan Fanayama, Nias Selatan.














2.4.2. Pakaian Adat (bara Oholu).







Pakaian adat suku Nias dinamakan Baru Oholu untuk pakaian laki-laki dan Õröba Siöli untuk pakaian perempuan. Pakaian adat tersebut biasanya berwarna emas atau kuning yang dipadukan dengan warna lain seperti hitam, merah, dan putih. Adapun filosofi dari warna itusendiri antara lain: warna kuning yang dipadukan dengan corak persegi empat (Ni’obakola) dan pola bunga kapas (Ni’obowo gafasi) sering dipakai oleh para bangsawan untuk menggambarkan kejayaan kekuasaan, kekayaan, kemakmuran dan kebesaran warna merah yang dipadukandengan corak segi-tiga (Ni’ohulayo/ni’ogöna) sering dikenakan oleh prajurit untuk menggambarkan darah, keberanian dan kapabilitas para prajurit. Warna hitam yang sering dikenakan oleh rakyat tani menggambarkan situasi kesedihan, ketabahan dan kewaspadaan. Warna putih yang sering dikenakan oleh para pemuka agama kuno (Ere) menggambarkan kesucian, kemurnian dan kedamaian.






2.4.3. Bolanafo.




Merupakan kerajinan tangan yang dihasilkan oleh perempuan-perempuan Nias. Bolanafo berarti merangkai wadah. Bolanafo memiliki berbagai macam motif yang menarik sesuaidengan suasana, misalnya dikenal motif Ni’ohulayo yang disebut bola Nina/bola dandrösa secara khusus dipersembahkan kepada ibu pengantin perempuan dalam pesta pernikahan sebagai penghargaan dan penghormatan tertinggi sekaligus untuk mengambil hati seorang ibu karena dia yang merawat dan membesarkan anak perempuannya dari kecil hingga saat menikah. Ada motif yang kemungkinan besar terinspirasi dari keindahan taburan bintang kecil dan bintang yang besar maka disebut bolanafo ni’odöfi dan bolanafo ni’omadala. Ada yang warnanya dominan ungu, mengingatkan warna ungu tanaman sayuran terung Nias. Ada juga bermotif meliuk-liuk menggambarkan daun pakis yang tumbuh banyak di Nias atau bercorak hola-hola galitö (lidah api yang sedang membara) seperti motif yang terdapat pada mahkota pengantin pria. Jadi, motifnya sangat kaya dan penamaannya unik sekali karena berkaitan dengan alam dan cerita kehidupan masyarakat Nias itu sendiri.







BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan.
Dari pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa masyarakat di Indonesia memiliki bermacam-macam kesenian sesuai dengan daerahnya masing-masing. Kesenian-kesenian tersebut melukiskan bagaimana keadaan alam, keadaan masyarakat, dan adat istiadat dalam daerahnya. Perkembangan zaman sedikit banyak mengancam kesenian dan budaya daerah Nias. Oleh karena itu generasi muda di seluruh wajib melestarikan kesenian-kesenian dan budaya khas Nias dan seluruh daerah lainnya di Indonesia.

3.2. Penutup.
Demikianlah makalah sederhana ini. Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan pembaca mengenai budaya nias.















DAFTAR PUSTAKA

Koentjaraningrat (2009).edisi revisi Ilmu Antropologi. Jakarta : Asdi Mahasatya.
Wiranata, I Gede A.B(2002). Antropologi Budaya.Bandung:Citra Aditya Baktihttp://id.wikipedia.org/wiki/Pakaian_Adat_Suku_Niashttp://id.wikipedia.org/wiki/Suk_Niashttp://www.swaberita.com/2008/05/16/nusantara/lompat-batu-tradisi-nias.
htmlhttp://zairifblog.blogspot.com/2010/07/perkawinan-suku-nias.
htmlhttp://www.budayaindonesia.org/iaci/Tari_Maena_%28Nias%29"http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Niashttp://niasonline.net/2008/05/22/bowo-dalam-adat-nias-1/http://www.museum.pusaka-nias.org/http://niasonline.net/informasi/bahasa-indonesia/info-nias/marga-mado-suku-nias/http://filiuspater.worpress.com/Sakramen Pernikahan dan Inkulturasi di Nias.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar